Selasa, 17 Mei 2011

Orang Utan, Orang Desa dan Orang Kota

Kawan, pernahkah engkau pergi ke pusat2 perbelanjaan, ke mal2 dan lihatah betapa besar, penuh barang2 dan manusia di sana? Tiada hari yang tiada ramai, dan tiada hari yang tiada memerlukan segala macam kebutuhan. Pernahkah engkau pikirkan, mengapa kita manusia modern ini merasa memerlukan sangat banyak kebutuhan? Pernahkah engkau bandingkan kehidupan kita (orang kota) yang begitu banyak memiliki kebutuhan, dengan kehidupan orang2 desa yang sederhana, yang tak pernah terlalu sibuk untuk menikmati mekarnya mawar, atau mencium wanginya bunga kopi yang sedang merekah, atau wangi tanah kemarau yang tersiram hujan disenja hari?

Tampak jelas sekali dari begitu besarnya pusat2 perbelanjaan, dari begitu banyaknya barang2 yang diperjualbelikan, orang2 kota seperti kita ini seakan2 tiada habis2nya memiliki kebutuhan. Dari kebutuhan dasar berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal, kita beranjak menuju kebutuhan2 lain semacam hiburan (kehidupan kota membuat kita stress), perawatan tubuh (polusi kota menyebabkan tubuh kita mudah menua dan mudah sakit) pendidikan (persaingan yang ketat cuma menyisakan mereka yang kuat), aksesoris (penampilan luar adalah nilai utama, soal mutu bisa direkayasa), transportasi, komunikasi..dsb.

Kawan, kita sering melihat di kota mana pun, selalu ada kesibukan yang luar biasa. Lalu lintas macet karena banyaknya mobil, meskipun jalan raya sudah di buat sampai bertingkat-tingkat dan selebar-lebarnya.
Pabrik-pabrik beroperasi sepanjang hari, menghasilkan barang2 yang kita anggap sebagai kebutuhan. Orang-orang hilir mudik, dan semuanya tampak sibuk.

Mengapa kita demikian sibuk, kawan? Apa yang kita cari? Harta benda?
Uang, uang, uang? Gengsi dan kehormatan kelas? Kenikmatan hidup atawa hedonisme? Bukankah untuk mencapai tujuan sejati manusia-kebahagiaan-kita tidak butuh tetek bengek sebanyak itu?
Bukankah semua yang kita anggap sebagai kebutuhan, sesungguhnya cuma prioritas terendah dari kehidupan yang sebenarnya?

Kawan, satu hari saya melihat seekor orang utan sedang duduk santai sambil makan sebuah pisang. Terlihat betapa sederhananya kehidupannya. Dia tak membutuhkan apa pun selain makan, atap untuk berteduh, dan
rasa aman bagi diri dan kelompoknya untuk mencari makan, beristirahat, dan berkembang biak.

Pernahkan engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan sebuah mobil, rumah berikut kolam renang ukuran olympic, pergi ke salon perawatan? Atau pernahkah engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan komputer dan akses internet, atau segala macam tetek bengek benda2 yang kita anggap sebagai kebutuhan padahal sebenarnya tidak?

Kawan, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mengajak anda untuk menjadi orang utan, hidup cuma untuk makan dan berkembang biak. Saya cuma ingin kita coba merenung sejenak, mengapa dari hari ke hari kita
selalu sibuk mencari nafkah, selalu tampak tergesa-gesa mengejar kesempatan, dan selalu tiada habis2nya memiliki kebutuhan2 yang tiba2 muncul untuk dipenuhi?

Renungkanlah, mengapa kita semakin menjadi budak dari rutinitas kita sendiri. Pagi bangun bersiap2 untuk kerja, sarapan dengan terburu-buru karena takut macet di jalan, kerja keras demi meningkatkan prestasi dan ujung2 demi uang yang lebih banyak lagi..lebih banyak lagi.dan lebih banyak lagi, untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang muncul dengan tiba2, merengek2 minta dipenuhi. Bukankah keadaan seperti ini tiada
berbeda dengan kondisi seorang pecandu putauw?

Renungkanlah, mengapa dari hari ke hari kita semakin menjadi budak dari keinginan kita sendiri. Didorong oleh segala macam godaan duniawi, kebutuhan semu yang diciptakan oleh iklan2 yang menampilkan gaya hidup semu oleh bintang2 yang juga semu, betapa makin kaburnya pengertian kita akan bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kawan, ada batasnya. Tetapi keinginan, sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan batasnya.

Kita bukan robot kawan, dan kita bukan budak siapa pun. Jangan biarkan diri kita diperobot dan diperbudak oleh sesatnya nilai2 materialisme dan hedonisme. Jangan biarkan remote control diri kita berada di tangan tuan rutinitas, tuan materialisme dan nyonya hedonisme. Mari kita bentengi diri kita dengan kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Seperti kata Mahatma Gandhi, “High thinking, Plain living.”

Chuang 130501
“Bila seseorang tak dapat menemukan kebahagiaan
di dalam dirinya sendiri, maka ia tak kan menemukannya
di mana pun juga.” BUDDHA

Hidup Hanya Sebuah Perjalanan

Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi  daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.

Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.

Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 ahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Cuma yaitu–kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu…

Jalanilah hidup yang seimbang – Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama:
Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Lelaki Sejati

Ada Seorang Gadis bertanya kepada ibundanya, bagaimana memilih laki-laki sejati?
Bunda menjawab, “Nak…Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.”
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempatnya bekerja Tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang
Tetapi dari hati yang ada dibalik itu

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja
Tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan
Tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci
Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca.

Bagus Untuk Jadi Cermin Diri

Mengapa banyak orang gagal mencapai impiannya? Saat orang ditanya pertanyaan tersebut, sebagian besar akan mengatakan bahwa impiannya terlalu muluk, karena resesi ekonomi, karena lahir dari keluarga miskin, karena kurangnya pendidikan, karena keluarga tidak mendukung, dan alasan-alasan lain, yang intinya adalah menyalahkan pihak lain.Saat ini kita mulai menyalahkan pihak lain, sebenarnya kita menetapkan diri kita sebagai “korban” dari ketidakmampuan menggapai tujuan. Kalau kita mau jujur, sebenarnya kita gagal, karena kita tidak mau BERUBAH. Ya berubah!.
Berubah dengan meningkatkan kapabilitas di dalam diri kita untuk menggapai tujuan. Kita belum bisa mencapai keinginan, karena kita belum mempunyai KEMAMPUAN yang diperlukan untuk mencapai keinginan tersebut. Jelas diperlukan kemampuan yang berbeda antara sekadar naik kelas dengan juara kelas, antara juara provinsi dengan juara nasional, dan antara orang yang berkecukupan dengan orang kaya.Yang sering terjadi adalah orang dengan kemampuan yang SAMA, namun menghendaki hasil yang lebih baik. Hal inilah yang kadang tidak disadari, sehingga kita sering menyebabkan kita frustasi, karena kerja keras yang telah kita lakukan tidak bisa memberikan hasil seperti yang kita inginkan.
Jika demikian, lalu bagaimana strategi kita untuk meningkatkan kemampuan di dalam diri??

CARILAH SEORANG ‘ROLE MODEL’
Ini adalah cara termudah untuk meningkatkan kualitas diri kita. Cukup mencari seorang Role Model atau contoh orang-orang yang sudah sangat sukses di bidang yang anda geluti. Kita cukup meniru dan mempelajari apa yang telah mereka lakukan hingga mencapai kesuksesan mereka yang sekarang, dan lakukan adaptasi sehingga cocok bagi diri kita. Denga mempunyai seorang role model, kita bisa belajar dari kegagalan, perjuangan dan kesuksesan orang lain, sehingga kita tidak perlu melakukan trial dan error terhadap langkah kita ke depan. Ibaratnya kita langsung masuk ke jalan tol, dan tidak perlu melalui jalan kecil yang rusak dan berliku.

JADILAH SEORANG ‘EXPERT’ DIBIDANGNYA
Orang-orang yang sukses adalah mereka yang memiliki kemampuan terbaik dibidangnya. Mereka selalu menantang diri mereka sendiri untuk membuat prestasi yang lebih baik apabila satu tugas telah selesai. Kita bisa mengawali langkah awal menjadi seorang expert dengan lingkungan terkecil dilingkungan sekitar kita. Seorang olahragawan misalnya, dia akan mulai dengan menjadi yang terbaik di antara teman-teman di sekitarnya, lalu menjadi juara provinsi, kemudian baru menantang diri mereka menjadi juara nasional, juara dunia atau juara olympiade.

TINGKATKAN KUALITAS ‘NETWORKING’ KITA
Untuk ‘naik’ menuju kesuksesan, kita tidak bisa ‘memanjat’ seorang diri, harus ada yang ‘mendorong’ atau ‘menarik’ kita menujun ke atas. Karena itu kita membutuhkan bantuan orang lain, atau networking. Banyak orang yang kurang tepat mengartikan networking. Networking bukan berarti anda mengumpulkan kartu nama orang sebanyak mungkin. Networking juga bukan berarti anda mempunyai teman banyak. Tapi networking yang baik adalah bila kita mempunyai relasi yang TAHU akan kapabilitas kita, dan bisa BEKERJA SAMA SATU SAMA LAIN untuk saling memberikan MANFAAT YANG MAKSIMAL.

MILIKI FLEKSIBILITAS TINGGI UNTUK BERUBAH
Bagaimana bila kita sudah punya role model, kita sudah punya networking, dan sudah menjadi expert di bidang kita, tapi ternyata tindakan kita belum memberikan hasil yang kita harapkan? Tidak semua yang kita tiru bisa memberikan hasil yang sama, karena ada hal-hal lain yang ikut mempengaruhi hasil kita, misalnya lingkungan dan kondisi di sekitar kita. Karena itu, kita perlu punya satu hal yang terakhir, yaitu fleksibilitas. Kita harus peka terhadap hasil sementara yang sudah kita capai. Tidak ada salahnya mengubah arah, menyesuaikan dengan kondisi yang ada, asalkan tetap membawa kita ke tujuan yang kita inginkan.

Ketakutan terbesar kita untuk melakukan sesuatu yang baru adalah karena kita pada awalnya sudah berpikir bahwa output yang akan keluar dari tindakan kita adalah output yang jelek. Tapi ketakutan bisa dihadapi, dimana 90% dari ketakutan kita sebenarnya tidak pernah terjadi dan hanya merupakan imajinasi kita terlalu memikirkan yang tidak-tidak, sementara yang 10% bisa dihadapi dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mulai melakukannya. Mulai dari hal yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini.

Satu Maaf untuk Sejuta Sehat

Ingin hidup sehat, jangan berat hati memaafkan kesalahan orang lain. Penelitian menunjukkan, orang yang sulit memberi maaf lebih berisiko terkena serangan jantung dan penyakit berbahaya lainnya. Maaf ya.

Dalam kondisi yang tidak mendukung, misalnya jalanan macet, cuaca yang panas, atau belum gajian, kemarahan orang lebih mudah tersulut.
Hal-hal kecil bisa bikin kesal setengah mati bahkan sampai dendam berhari-hari.
Marah atau kekesalan emosi yang melonjak tinggi dijamin nggak sehat buat tubuh. Jika seulas senyum kecil saja melibatkan kontraksi ratusan jaringan otot dan syaraf, apalagi marah yang jelas-jelas menggunakan ekstra energi. Tubuh kita pastinya lelah banget!
Dilansir Findaticle, Senin (31/10/2005) Universitas Tennesse Amerika mengadakan penelitian tentang efek memaafkan dari sisi psikologis dan fisik. Objek penelitiannya adalah orang-orang yang pernah dikhianati oleh orang tua, teman, atau pacar.
Mereka diminta bercerita tentang pengkhianatan yang pernah dialaminya. Selama bercerita peneliti mengukur tekanan darah, detak jantung, ketegangan di otot dahi, dan respon ketegangan di kulit.
Hasilnya, orang yang mudah memaafkan memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Sedangkan sebaliknya, orang yang sulit memaafkan atau masih menyimpan dendam, tekanan darahnya cenderung tinggi.
sasa
Ketika membicarakan sesuatu yang mengesalkan, tekanan darah seseorang cenderung meningkat. Tapi memaafkan kesalahan membuat orang marah jauh lebih sehat.
“Memaafkan bisa meningkatkan kesehatan karena mengurangi beban psikologis yang berat. Beban tersebut berasal dari stress tersimpan yang bersumber dari perasaan terluka atau tersinggung,” jelas Kathleen Lawler Ph.D kepala peneliti di Universitas Tennesse.
Memaafkan memang bukan hal yang mudah dan butuh latihan yang cukup sering. Tapi setelah anda menjadi orang yang pemaaf, dijamin pasti banyak perubahan hidup yang anda alami.
Orang yang pemaaf biasanya lebih berempati, hangat, dan menunjukkan banyak perilaku-perilaku positif. Mereka juga biasanya lebih rukun dalam berhubungan dengan orang-orang sekitarnya dan bisa mengkomunikasikan perasaannya lebih baik.

Sulit memaafkan orang? Kathleen Lawler menyarankan beberapa langkah berikut:
1. Hadapi kenyataan. Sakit hati atau kenyataan pahit memang sulit diterima. Tapi menerima dan berani menghadapi dengan ikhlas akan membuat anda lebih mudah memaafkan ketimbang menghidari atau menyangkalnya.
2. Berpikir dari sisi lain. Wajar saja ketika marah yang kita pikirkan hanya diri kita sendiri. Tenangkan diri sebentar, lalu coba bawa diri anda ke pikiran orang yang berbuat salah kepada anda. Coba pahami sebab dan apa yang membuat ia melakukan kesalahan pada anda.
Latihan ini akan membuat anda mudah berempati kepada orang lain.
Dengan berusaha memahami isi kepala si pembuat kesalahan, biasanya kita akan lebih mudah memaafkan.
3. Singkirkan dendam dan maafkan kesalahan. Siapa saja punya pilihan dalam hidup. Jika seseorang punya kesalahan, anda bisa memilih untuk memaafkan atau tidak memaafkan. Dari uraian di atas pastinya anda sudah semakin tahu mana yang anda pilih. Jika dengan memaafkan hidup lebih tenang dan badan lebih sehat, kenapa tidak dicoba saja?
Maaf adalah kata singkat yang kadang sulit diucapkan. Tapi sekalinya anda memberi maaf dengan ikhlas dan tulus anda akan mengurangi risiko terkena penyakit jantung, stroke, ginjal, darah tinggi, atau kematian karena marah yang berlebihan.
Selain itu, memberi maaf bisa membebaskan anda dari rasa marah, depresi, kesal, dan bahkan bisa mendongkrak rasa percaya diri.
Sedikit fakta, sebuah studi lain dari Universitas Michigan Amerika menemukan, orang berusia 18-40 tahun lebih sulit memaafkan ketimbang orang yang lebih tua dari usia tersebut.
Well, maaf lahir batin ya.

Sumber: Satu Maaf untuk Sejuta Sehat, Puteri Fatia – detikHot

Introspeksi Diri

Introspeksi diri dapat kita lakukan dengan cara sistematis. Kita seyogianya mulai memahami bahwa terdapat peta kemanusiaan dalam diri yang terdiri dari aspek kalbu sebagai pusat, inti, bahkan hakekat dari kemanusiaan itu sendiri. Keberadaan kalbu menyadarkan kita pada hubungan vertikal antara diri dan Tuhan Yang Maha Esa. Tanyakan dalam diri, seberapa dalamkah penghayatan kita tentang hubungan vertikal ini selama ini? Upaya apakah yang telah kita lakukan guna menguatkan hubungan vertikal ini dengan harapan peningkatan kokohnya penghayatan eksistensi diri kita, sebagai pribadi otonom.

Aspek kognisi. Seberapa jauhkah prestasi intelektual yang selama ini sudah kita raih. Sudahkah kita memanfaatkan potensi intelektual kita secara optimal?

Aspek konasi. Seberapa tekunkah kita dalam berupaya meraih prestasi kerja optimal? Apakah kita tipe orang yang terlalu cepat merasa puas dengan apa adanya. Sejauh mana kita berupaya meningkatkan ketekunan berusaha untuk bisa meraih prestasi optimal?

Aspek emosi. Seberapa besar pengaruh emosi dalam pencapaian prestasi sosial kita, seberapa beranikah kita menempatkan diri dalam posisi sosial yang pas untuk diri kita, tanpa mengusik ketenteraman lingkungan di mana kita berada? Seberapa asertifkah kita dalam mengungkapkan perasaan dan isi pikiran kita pada lingkungan di mana kita berada, sehingga terasa ringan di dada?

Aspek nilai dan tatanan sosial. Seberapa jauhkah kesenjangan antara nilai diri dengan nilai sosial di mana kita berada. Seberapa besarkah kemampuan kita dalam mengintegrasikan kedua tatanan nilai tersebut dalam perilaku sosial kita, tanpa membuat diri kita merasa tertekan dan tanpa mengusik lingkungan di mana kita berada?

Aspek fisik. Seberapa jauhkah kita memikirkan dan mempertimbangkan pola hidup kita untuk menjaga kesehatan dan kebugaran fisik yang akan menunjang kesejahteraan fisik dan sekaligus mental kita?

Nah, dengan bantuan sistematika introspeksi diri yang sederhana tersebut, kita bisa menentukan langkah awal yang relatif lebih lugas dan jelas dalam meniti langkah lanjut ditahun ini, demi masa depan, yang mudah-mudahan lebih menjanjikan. Amien.

Benarkah Tuhan itu tidak ada?

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang, 
“Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu?” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan. Untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit?, Adakah anak terlantar? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Situkang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker-istilah jawa-nya”, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang
itu terlihat kotor dan tidak terawat. Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,” Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.” Si tukang cukur tidak terima, “Kamu kok bisa bilang begitu?”. “Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan. “Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur. “Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri. “Cocok!” kata si konsumen menyetujui. “Itulah point utama-nya!. Sama dengan TUHAN, TUHAN ITU JUGA ADA!, Tapi apa yang
terjadi orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA”

Sumber :
http://www.facebook.com/notes/w-andi-agustian/tuhan-itu-tidak-ada/160166360706248