Selasa, 17 Mei 2011

Orang Utan, Orang Desa dan Orang Kota

Kawan, pernahkah engkau pergi ke pusat2 perbelanjaan, ke mal2 dan lihatah betapa besar, penuh barang2 dan manusia di sana? Tiada hari yang tiada ramai, dan tiada hari yang tiada memerlukan segala macam kebutuhan. Pernahkah engkau pikirkan, mengapa kita manusia modern ini merasa memerlukan sangat banyak kebutuhan? Pernahkah engkau bandingkan kehidupan kita (orang kota) yang begitu banyak memiliki kebutuhan, dengan kehidupan orang2 desa yang sederhana, yang tak pernah terlalu sibuk untuk menikmati mekarnya mawar, atau mencium wanginya bunga kopi yang sedang merekah, atau wangi tanah kemarau yang tersiram hujan disenja hari?

Tampak jelas sekali dari begitu besarnya pusat2 perbelanjaan, dari begitu banyaknya barang2 yang diperjualbelikan, orang2 kota seperti kita ini seakan2 tiada habis2nya memiliki kebutuhan. Dari kebutuhan dasar berupa makan-minum, pakaian dan tempat tinggal, kita beranjak menuju kebutuhan2 lain semacam hiburan (kehidupan kota membuat kita stress), perawatan tubuh (polusi kota menyebabkan tubuh kita mudah menua dan mudah sakit) pendidikan (persaingan yang ketat cuma menyisakan mereka yang kuat), aksesoris (penampilan luar adalah nilai utama, soal mutu bisa direkayasa), transportasi, komunikasi..dsb.

Kawan, kita sering melihat di kota mana pun, selalu ada kesibukan yang luar biasa. Lalu lintas macet karena banyaknya mobil, meskipun jalan raya sudah di buat sampai bertingkat-tingkat dan selebar-lebarnya.
Pabrik-pabrik beroperasi sepanjang hari, menghasilkan barang2 yang kita anggap sebagai kebutuhan. Orang-orang hilir mudik, dan semuanya tampak sibuk.

Mengapa kita demikian sibuk, kawan? Apa yang kita cari? Harta benda?
Uang, uang, uang? Gengsi dan kehormatan kelas? Kenikmatan hidup atawa hedonisme? Bukankah untuk mencapai tujuan sejati manusia-kebahagiaan-kita tidak butuh tetek bengek sebanyak itu?
Bukankah semua yang kita anggap sebagai kebutuhan, sesungguhnya cuma prioritas terendah dari kehidupan yang sebenarnya?

Kawan, satu hari saya melihat seekor orang utan sedang duduk santai sambil makan sebuah pisang. Terlihat betapa sederhananya kehidupannya. Dia tak membutuhkan apa pun selain makan, atap untuk berteduh, dan
rasa aman bagi diri dan kelompoknya untuk mencari makan, beristirahat, dan berkembang biak.

Pernahkan engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan sebuah mobil, rumah berikut kolam renang ukuran olympic, pergi ke salon perawatan? Atau pernahkah engkau melihat seekor orang utan yang memerlukan komputer dan akses internet, atau segala macam tetek bengek benda2 yang kita anggap sebagai kebutuhan padahal sebenarnya tidak?

Kawan, jangan salah sangka. Saya tidak sedang mengajak anda untuk menjadi orang utan, hidup cuma untuk makan dan berkembang biak. Saya cuma ingin kita coba merenung sejenak, mengapa dari hari ke hari kita
selalu sibuk mencari nafkah, selalu tampak tergesa-gesa mengejar kesempatan, dan selalu tiada habis2nya memiliki kebutuhan2 yang tiba2 muncul untuk dipenuhi?

Renungkanlah, mengapa kita semakin menjadi budak dari rutinitas kita sendiri. Pagi bangun bersiap2 untuk kerja, sarapan dengan terburu-buru karena takut macet di jalan, kerja keras demi meningkatkan prestasi dan ujung2 demi uang yang lebih banyak lagi..lebih banyak lagi.dan lebih banyak lagi, untuk memenuhi segala macam kebutuhan yang muncul dengan tiba2, merengek2 minta dipenuhi. Bukankah keadaan seperti ini tiada
berbeda dengan kondisi seorang pecandu putauw?

Renungkanlah, mengapa dari hari ke hari kita semakin menjadi budak dari keinginan kita sendiri. Didorong oleh segala macam godaan duniawi, kebutuhan semu yang diciptakan oleh iklan2 yang menampilkan gaya hidup semu oleh bintang2 yang juga semu, betapa makin kaburnya pengertian kita akan bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan kawan, ada batasnya. Tetapi keinginan, sayangnya, sampai saat ini belum ditemukan batasnya.

Kita bukan robot kawan, dan kita bukan budak siapa pun. Jangan biarkan diri kita diperobot dan diperbudak oleh sesatnya nilai2 materialisme dan hedonisme. Jangan biarkan remote control diri kita berada di tangan tuan rutinitas, tuan materialisme dan nyonya hedonisme. Mari kita bentengi diri kita dengan kebijaksanaan untuk dapat membedakan antara keinginan dan kebutuhan.

Seperti kata Mahatma Gandhi, “High thinking, Plain living.”

Chuang 130501
“Bila seseorang tak dapat menemukan kebahagiaan
di dalam dirinya sendiri, maka ia tak kan menemukannya
di mana pun juga.” BUDDHA

Hidup Hanya Sebuah Perjalanan

Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi  daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.

Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati. Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, “Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri.”

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan rohani dan pelayanan kita.

Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita mati besok.

Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 ahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan mati? Cuma yaitu–kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu…

Jalanilah hidup yang seimbang – Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama:
Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Lelaki Sejati

Ada Seorang Gadis bertanya kepada ibundanya, bagaimana memilih laki-laki sejati?
Bunda menjawab, “Nak…Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar Tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.”
Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang
Tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat disekitarnya Tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia dihormati di tempatnya bekerja Tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan
Tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang
Tetapi dari hati yang ada dibalik itu

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari banyaknya wanita yang memuja
Tetapi komitmennya terhadap wanita yang dicintainya

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari barbel yang dibebankan
Tetapi dari tabahnya dia menghadapi lika-liku kehidupan

Laki-laki sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca kitab suci
Tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang dia baca.

Bagus Untuk Jadi Cermin Diri

Mengapa banyak orang gagal mencapai impiannya? Saat orang ditanya pertanyaan tersebut, sebagian besar akan mengatakan bahwa impiannya terlalu muluk, karena resesi ekonomi, karena lahir dari keluarga miskin, karena kurangnya pendidikan, karena keluarga tidak mendukung, dan alasan-alasan lain, yang intinya adalah menyalahkan pihak lain.Saat ini kita mulai menyalahkan pihak lain, sebenarnya kita menetapkan diri kita sebagai “korban” dari ketidakmampuan menggapai tujuan. Kalau kita mau jujur, sebenarnya kita gagal, karena kita tidak mau BERUBAH. Ya berubah!.
Berubah dengan meningkatkan kapabilitas di dalam diri kita untuk menggapai tujuan. Kita belum bisa mencapai keinginan, karena kita belum mempunyai KEMAMPUAN yang diperlukan untuk mencapai keinginan tersebut. Jelas diperlukan kemampuan yang berbeda antara sekadar naik kelas dengan juara kelas, antara juara provinsi dengan juara nasional, dan antara orang yang berkecukupan dengan orang kaya.Yang sering terjadi adalah orang dengan kemampuan yang SAMA, namun menghendaki hasil yang lebih baik. Hal inilah yang kadang tidak disadari, sehingga kita sering menyebabkan kita frustasi, karena kerja keras yang telah kita lakukan tidak bisa memberikan hasil seperti yang kita inginkan.
Jika demikian, lalu bagaimana strategi kita untuk meningkatkan kemampuan di dalam diri??

CARILAH SEORANG ‘ROLE MODEL’
Ini adalah cara termudah untuk meningkatkan kualitas diri kita. Cukup mencari seorang Role Model atau contoh orang-orang yang sudah sangat sukses di bidang yang anda geluti. Kita cukup meniru dan mempelajari apa yang telah mereka lakukan hingga mencapai kesuksesan mereka yang sekarang, dan lakukan adaptasi sehingga cocok bagi diri kita. Denga mempunyai seorang role model, kita bisa belajar dari kegagalan, perjuangan dan kesuksesan orang lain, sehingga kita tidak perlu melakukan trial dan error terhadap langkah kita ke depan. Ibaratnya kita langsung masuk ke jalan tol, dan tidak perlu melalui jalan kecil yang rusak dan berliku.

JADILAH SEORANG ‘EXPERT’ DIBIDANGNYA
Orang-orang yang sukses adalah mereka yang memiliki kemampuan terbaik dibidangnya. Mereka selalu menantang diri mereka sendiri untuk membuat prestasi yang lebih baik apabila satu tugas telah selesai. Kita bisa mengawali langkah awal menjadi seorang expert dengan lingkungan terkecil dilingkungan sekitar kita. Seorang olahragawan misalnya, dia akan mulai dengan menjadi yang terbaik di antara teman-teman di sekitarnya, lalu menjadi juara provinsi, kemudian baru menantang diri mereka menjadi juara nasional, juara dunia atau juara olympiade.

TINGKATKAN KUALITAS ‘NETWORKING’ KITA
Untuk ‘naik’ menuju kesuksesan, kita tidak bisa ‘memanjat’ seorang diri, harus ada yang ‘mendorong’ atau ‘menarik’ kita menujun ke atas. Karena itu kita membutuhkan bantuan orang lain, atau networking. Banyak orang yang kurang tepat mengartikan networking. Networking bukan berarti anda mengumpulkan kartu nama orang sebanyak mungkin. Networking juga bukan berarti anda mempunyai teman banyak. Tapi networking yang baik adalah bila kita mempunyai relasi yang TAHU akan kapabilitas kita, dan bisa BEKERJA SAMA SATU SAMA LAIN untuk saling memberikan MANFAAT YANG MAKSIMAL.

MILIKI FLEKSIBILITAS TINGGI UNTUK BERUBAH
Bagaimana bila kita sudah punya role model, kita sudah punya networking, dan sudah menjadi expert di bidang kita, tapi ternyata tindakan kita belum memberikan hasil yang kita harapkan? Tidak semua yang kita tiru bisa memberikan hasil yang sama, karena ada hal-hal lain yang ikut mempengaruhi hasil kita, misalnya lingkungan dan kondisi di sekitar kita. Karena itu, kita perlu punya satu hal yang terakhir, yaitu fleksibilitas. Kita harus peka terhadap hasil sementara yang sudah kita capai. Tidak ada salahnya mengubah arah, menyesuaikan dengan kondisi yang ada, asalkan tetap membawa kita ke tujuan yang kita inginkan.

Ketakutan terbesar kita untuk melakukan sesuatu yang baru adalah karena kita pada awalnya sudah berpikir bahwa output yang akan keluar dari tindakan kita adalah output yang jelek. Tapi ketakutan bisa dihadapi, dimana 90% dari ketakutan kita sebenarnya tidak pernah terjadi dan hanya merupakan imajinasi kita terlalu memikirkan yang tidak-tidak, sementara yang 10% bisa dihadapi dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mulai melakukannya. Mulai dari hal yang terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini.

Satu Maaf untuk Sejuta Sehat

Ingin hidup sehat, jangan berat hati memaafkan kesalahan orang lain. Penelitian menunjukkan, orang yang sulit memberi maaf lebih berisiko terkena serangan jantung dan penyakit berbahaya lainnya. Maaf ya.

Dalam kondisi yang tidak mendukung, misalnya jalanan macet, cuaca yang panas, atau belum gajian, kemarahan orang lebih mudah tersulut.
Hal-hal kecil bisa bikin kesal setengah mati bahkan sampai dendam berhari-hari.
Marah atau kekesalan emosi yang melonjak tinggi dijamin nggak sehat buat tubuh. Jika seulas senyum kecil saja melibatkan kontraksi ratusan jaringan otot dan syaraf, apalagi marah yang jelas-jelas menggunakan ekstra energi. Tubuh kita pastinya lelah banget!
Dilansir Findaticle, Senin (31/10/2005) Universitas Tennesse Amerika mengadakan penelitian tentang efek memaafkan dari sisi psikologis dan fisik. Objek penelitiannya adalah orang-orang yang pernah dikhianati oleh orang tua, teman, atau pacar.
Mereka diminta bercerita tentang pengkhianatan yang pernah dialaminya. Selama bercerita peneliti mengukur tekanan darah, detak jantung, ketegangan di otot dahi, dan respon ketegangan di kulit.
Hasilnya, orang yang mudah memaafkan memiliki tekanan darah yang lebih rendah. Sedangkan sebaliknya, orang yang sulit memaafkan atau masih menyimpan dendam, tekanan darahnya cenderung tinggi.
sasa
Ketika membicarakan sesuatu yang mengesalkan, tekanan darah seseorang cenderung meningkat. Tapi memaafkan kesalahan membuat orang marah jauh lebih sehat.
“Memaafkan bisa meningkatkan kesehatan karena mengurangi beban psikologis yang berat. Beban tersebut berasal dari stress tersimpan yang bersumber dari perasaan terluka atau tersinggung,” jelas Kathleen Lawler Ph.D kepala peneliti di Universitas Tennesse.
Memaafkan memang bukan hal yang mudah dan butuh latihan yang cukup sering. Tapi setelah anda menjadi orang yang pemaaf, dijamin pasti banyak perubahan hidup yang anda alami.
Orang yang pemaaf biasanya lebih berempati, hangat, dan menunjukkan banyak perilaku-perilaku positif. Mereka juga biasanya lebih rukun dalam berhubungan dengan orang-orang sekitarnya dan bisa mengkomunikasikan perasaannya lebih baik.

Sulit memaafkan orang? Kathleen Lawler menyarankan beberapa langkah berikut:
1. Hadapi kenyataan. Sakit hati atau kenyataan pahit memang sulit diterima. Tapi menerima dan berani menghadapi dengan ikhlas akan membuat anda lebih mudah memaafkan ketimbang menghidari atau menyangkalnya.
2. Berpikir dari sisi lain. Wajar saja ketika marah yang kita pikirkan hanya diri kita sendiri. Tenangkan diri sebentar, lalu coba bawa diri anda ke pikiran orang yang berbuat salah kepada anda. Coba pahami sebab dan apa yang membuat ia melakukan kesalahan pada anda.
Latihan ini akan membuat anda mudah berempati kepada orang lain.
Dengan berusaha memahami isi kepala si pembuat kesalahan, biasanya kita akan lebih mudah memaafkan.
3. Singkirkan dendam dan maafkan kesalahan. Siapa saja punya pilihan dalam hidup. Jika seseorang punya kesalahan, anda bisa memilih untuk memaafkan atau tidak memaafkan. Dari uraian di atas pastinya anda sudah semakin tahu mana yang anda pilih. Jika dengan memaafkan hidup lebih tenang dan badan lebih sehat, kenapa tidak dicoba saja?
Maaf adalah kata singkat yang kadang sulit diucapkan. Tapi sekalinya anda memberi maaf dengan ikhlas dan tulus anda akan mengurangi risiko terkena penyakit jantung, stroke, ginjal, darah tinggi, atau kematian karena marah yang berlebihan.
Selain itu, memberi maaf bisa membebaskan anda dari rasa marah, depresi, kesal, dan bahkan bisa mendongkrak rasa percaya diri.
Sedikit fakta, sebuah studi lain dari Universitas Michigan Amerika menemukan, orang berusia 18-40 tahun lebih sulit memaafkan ketimbang orang yang lebih tua dari usia tersebut.
Well, maaf lahir batin ya.

Sumber: Satu Maaf untuk Sejuta Sehat, Puteri Fatia – detikHot

Introspeksi Diri

Introspeksi diri dapat kita lakukan dengan cara sistematis. Kita seyogianya mulai memahami bahwa terdapat peta kemanusiaan dalam diri yang terdiri dari aspek kalbu sebagai pusat, inti, bahkan hakekat dari kemanusiaan itu sendiri. Keberadaan kalbu menyadarkan kita pada hubungan vertikal antara diri dan Tuhan Yang Maha Esa. Tanyakan dalam diri, seberapa dalamkah penghayatan kita tentang hubungan vertikal ini selama ini? Upaya apakah yang telah kita lakukan guna menguatkan hubungan vertikal ini dengan harapan peningkatan kokohnya penghayatan eksistensi diri kita, sebagai pribadi otonom.

Aspek kognisi. Seberapa jauhkah prestasi intelektual yang selama ini sudah kita raih. Sudahkah kita memanfaatkan potensi intelektual kita secara optimal?

Aspek konasi. Seberapa tekunkah kita dalam berupaya meraih prestasi kerja optimal? Apakah kita tipe orang yang terlalu cepat merasa puas dengan apa adanya. Sejauh mana kita berupaya meningkatkan ketekunan berusaha untuk bisa meraih prestasi optimal?

Aspek emosi. Seberapa besar pengaruh emosi dalam pencapaian prestasi sosial kita, seberapa beranikah kita menempatkan diri dalam posisi sosial yang pas untuk diri kita, tanpa mengusik ketenteraman lingkungan di mana kita berada? Seberapa asertifkah kita dalam mengungkapkan perasaan dan isi pikiran kita pada lingkungan di mana kita berada, sehingga terasa ringan di dada?

Aspek nilai dan tatanan sosial. Seberapa jauhkah kesenjangan antara nilai diri dengan nilai sosial di mana kita berada. Seberapa besarkah kemampuan kita dalam mengintegrasikan kedua tatanan nilai tersebut dalam perilaku sosial kita, tanpa membuat diri kita merasa tertekan dan tanpa mengusik lingkungan di mana kita berada?

Aspek fisik. Seberapa jauhkah kita memikirkan dan mempertimbangkan pola hidup kita untuk menjaga kesehatan dan kebugaran fisik yang akan menunjang kesejahteraan fisik dan sekaligus mental kita?

Nah, dengan bantuan sistematika introspeksi diri yang sederhana tersebut, kita bisa menentukan langkah awal yang relatif lebih lugas dan jelas dalam meniti langkah lanjut ditahun ini, demi masa depan, yang mudah-mudahan lebih menjanjikan. Amien.

Benarkah Tuhan itu tidak ada?

Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat. Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan. Si tukang cukur bilang, 
“Saya tidak percaya Tuhan itu ada”.
“Kenapa kamu berkata begitu?” timpal si konsumen.
“Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan. Untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada. Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada, Adakah yang sakit?, Adakah anak terlantar? Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi.”
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat. Situkang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur. Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar mlungker-mlungker-istilah jawa-nya”, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang
itu terlihat kotor dan tidak terawat. Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,” Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR.” Si tukang cukur tidak terima, “Kamu kok bisa bilang begitu?”. “Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!”
“Tidak!” elak si konsumen. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana”, si konsumen menambahkan. “Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!”, sanggah si tukang cukur. “Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya”, jawab si tukang cukur membela diri. “Cocok!” kata si konsumen menyetujui. “Itulah point utama-nya!. Sama dengan TUHAN, TUHAN ITU JUGA ADA!, Tapi apa yang
terjadi orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA”

Sumber :
http://www.facebook.com/notes/w-andi-agustian/tuhan-itu-tidak-ada/160166360706248

Seorang Bayi Mungil Hanya Mampu Hidup Selama 6 Jam, Tetapi ..

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku “Gifts From The Heart for Women” karangan Karen Kingsbury.
Seorang Bayi Mungil Hanya Mampu Hidup Selama 6 Jam, Tetapi …
Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.
Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuksang ibu dan bayi laki2 nya.
Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. “Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak”, kata sang ibu di sela tangisannya.
Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.
Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?
Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri. Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.
Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.
Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka..
Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam…..
Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.
Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya…
Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :
1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.
2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.
3. Ibu Anne mengatakan “Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka, mereka akan menuju surga”.
Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.
PERTAMA, cuek / tidak peduli / tidak mengerti kisah ini.
KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.
KETIGA, tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara pandang tentang hidupnya.
KEEMPAT, tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara pandang tentang hidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknai hidupnya sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.
Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar “Hidup” menjadi “Hidup Yang Lebih Bermakna”. Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran Anda di dunia ini.
Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak dan Bagi Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i, Suami/Istri, Anak2 Anda, dst)

“Let’s share with others… Show them that WE care!”

Tak Kenal Menyerah

Seorang anak sambil menangis meninggalkan sekolahnya. Ia mengenggam selembar kertas di tangannya yang dititipkan gurunya untuk diberikan kepada orangtuanya. Di atas kertas itu tertulis, “Karena anakmu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran serta menghambat kemajuan proses pelajaran sekolah, dan demi rasa tanggung jawab kami terhadap murid-murid yang lain, maka kami sangat mengharapkan agar anak ini secara terhormat menarik diri sendiri dari sekolah.”
Setelah membaca nota tersebut, ibunya tak mampu menahan sedih. Air matanya mengalir deras. Ia sama sekali tak percaya kalau anaknya itu terlampau bodoh dan tak mampu memahami pelajaran sekolah. Ia lalu
memutuskan, “Kalau guru tidak bisa mengajarnya, aku akan menjadi guru bagi anakku sendiri.”
Tahukah anda apa yang terjadi pada diri anak tersebut setelah beberapa tahun kemudian? Pada saat kematiannya, anak yang dianggap bodoh oleh para gurunya serta dididik sendiri oleh ibunya itu, mendapat penghargaan amat besar oleh seluruh penduduk Amerika. Pada tanggal 18 Oktober 1931 malam hari jam 9.55 menit, seluruh Amerika memadamkan semua lampu listrik untuk mengenang jasa seorang penemu
besar, Thomas Alva Edison, seorang yang dianggap bodoh namun telah mengubah arah perkembangan dunia. Thomas tak menyerah pada penilaian orang lain.
 -----------------------
“I never failed once. I invented the light bulb. It just happened to be a 2000-step process.” (Thomas Alva Edison)
Sumber: Thomas Alva Edison’ Story

Miskin sama bahagianya dengan yg kaya

Poor is as Happy as Rich
(Miskin sama bahagianya dengan yg kaya)
Perihal menjadi kaya ini, biasanya orang selalu berpendapat bahwa apabila mereka menang lotere maka mereka akan menjadi kaya raya dan sangat bahagia. Tapi apakah itu benar ? Cerita ini dimulai di sebuah pantai Meksiko, di sebuah dusun nelayan. Pada suatu hari menjelang waktu makan siang seorang turis dari Amerika memperhatikan para nelayan
pulang dan menurunkan hasil tangkapan ikan mereka. Para nelayan itu kemudian bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
Lalu turis Amerika itu bertanya kepada salah satu nelayan, “Oh Tuan, kalau tidak keberatan, bolehkan saya bertanya apa yang anda lakukan?” Nelayan itu menjawab, “Tuan, saya baru pulang dari melaut, saya senang karena hasil tangkapan ikan hari ini bisa untuk membayar kebutuhan hidup kami. Jadi saya sekarang akan pulang dan makan siang dengan istri saya. Setelah makan siang saya akan tidur siang (siesta) dan sore harinya nanti akan bermain dengan anak-anak saya. Kemudian pada petang hari setelah makan malam, mungkin saya akan ke warung, bermain gitar serta minum-minum santai bersama beberapa teman. Sungguh menyenangkan sekali.”
Turis Amerika itu kemudian berkata, “Tuan, apabila tidak keberatan saya ingin memberikan sedikit saran. Saya adalah profesor pengajar mata kuliah bisnis di sebuah Universitas yang terkenal di Amerika, saat ini saya sedang berlibur. Saya ingin memberikan saran untuk menolong Anda. Bagaimana kalau Anda pergi melaut lagi sehabis makan siang nanti? Maka Anda dapat menangkap ikan yang jumlahnya dua kali lipat dari biasanya. Anda bisa mendapat lebih banyak uang. Dengan uang itu dalam beberapa bulan Anda bisa menggaji pegawai dan menambah sebuah perahu lagi, sehingga jumlah ikan yang Anda tangkap menjadi empat kali lipat.” “Dengan cara seperti ini dalam kurun waktu 5 atau 6 tahun Anda bisa menjadi juragan besar pemilik armada berpuluh-puluh perahu nelayan. Setelah itu anda bisa memindahkan kantor perusahaan Anda ke sebuah kota besar dan melebarkan sayap usaha Anda ke bidang-bidang bisnis lainnya. Sebagai seorang Direktur dari perusahaan besar, Anda bisa mengambil gaji besar. Kemudian daftarkan perusahaan Anda pada bursa saham dan ‘go public’ untuk menjaring modal yang lebih banyak lagi. Kemudian Anda beli kembali saham Anda sehingga harganya semakin naik agar nantinya bisa menjual semua saham Anda dengan harga yang lebih tinggi. Setelah itu Anda bisa pensiun dengan nyaman.”
“Dalam tempo lima puluh tahun Anda pasti akan pensiun sebagai seorang milyarder kaya raya, saya jamin itu karena saya seorang professor mata kuliah dan sangat paham dengan urusan ini.” Nelayan Meksiko tersebut mendengarkan dengan sangat seksama dan penuh rasa hormat. Di akhir pemaparan professor itu, dia lalu bertanya, “Tapi Tuan, apa yang akan saya lakukan dengan uang yang sangat banyak nanti?” Professor Amerika tertegun untuk beberapa saat, anehnya professor ini tidak pernah memikirkan rencana bisnisnya sampai sejauh ini. Satu-satunya hal yang terlintas dalam pikirannya adalah bagaimana cara untuk menghasilkan lebih banyak uang, tapi tidak pernah terpikir olehnya untuk apa uang tersebut akan digunakan.
Professor itu kemudian menjawab, “Dengan uang itu nanti Tuan bisa pensiun, santai. Mungkin bisa liburan di kampung nelayan yang tenang dan nyaman, seperti kampung ini contohnya. Anda bisa membeli perahu kecil dan pergi menangkap ikan untuk bersenang-senang di pagi hari dan pulang di siang hari untuk makan siang bersama istri Anda. Kemudian Anda bisa tidur siang dan bermalas-malasan atau bermain dengan anak-anak. Petang harinya Anda bebas pergi ke warung dan bersenang-senang dengan teman Anda.”
Nelayan tersebut menjawab “Tapi Tuan, bukankah itu semuanya seperti yang sudah saya lakukan saat ini?” Professor itu kemudian terdiam dan kehilangan kata-katanya.
Seringkali itulah yang terjadi, banyak orang ingin menjadi kaya raya agar mereka dapat hidup seperti orang miskin
Sahabat, ini Kiriman Mas Anwa Ratlib Bahagia

Rahasia Anti Frustasi: “Semeleh”

Pernahkah Anda memiliki suatu keinginan tetapi tidak kunjung tercapai? Apa yang Anda rasakan? Marah pada diri sendiri? Menyalahkan keadaan? Patah semangat? Frustasi? Demikian pula pada saat kita dihadapkan pada suatu keadaan sulit seperti ditekan, diberi target berat, ataupun mendapat limpahan amarah dari orang lain. Apa gejolak yang ada pada hati kita? Marah? Depresi? Dalam dunia kerja yang sangat kompetitif seperti sekarang ini setiap hari kita dihadapkan pada situasi yang menyesakkan nafas. Tidak mengenakkan, bahkan menyakitkan. Tapi itu tidak untuk semua orang. Beberapa orang pandai menyiasatinya. Siasat seperti apa yang harus kita terapkan agar tidak terlarut dalam kesulitan, kemarahan, dan frustasi? Bagaimana kita harus menempatkan diri kita dan menata emosi kita agar sukses dan nyaman dalam menjalankan kehidupan?

Kearifan lokal jawa mengajarkan kita agar dalam menjalankan kehidupan ini kita harus “semeleh”. Semeleh berasal dari akar kata “seleh” yang berarti letak. Dengan demikian “semeleh” bisa kita terjemahkan secara umum sebagai suatu keadaan dimana kita meletakkan segala sesuatu apa adanya, pada tempatnya. Terimalah segala sesuatu seperti apa adanya. Kurang lebih demikian pesan yang terkandung dalam kata “semeleh”. Apakah ini berarti kita harus mengalah saja pada keadaan saat kita mendapatkan kesulitan? Apakah ini relevan dalam dunia kerja yang saat ini semakin kompetitif? Bukannya kalau kita diam tidak bergerak akan menjadikan kita tergilas dalam arus bola salju kompetisi yang semakin hari semakin dahsyat? Nah, pertanyaan seperti itulah yang akan saya jawab disini. Saya akan mencoba meluruskan kesalah-pahaman tentang pengertian semeleh agar kita tidak mengaplikasikan semeleh secara keliru. Saya pastikan bahwa semeleh justru mengandung kekuatan dan kearifan yang luar biasa agar kita bisa menjadi pemenang dalam era kompetisi seperti sekarang ini.
Beberapa mahasiswa saya pada pertemuan pertama menampakkan wajah tegangnya melihat kontrak pembelajaran yang saya tawarkan. Mulai dari literatur yang wajib mereka baca, sistem penilaian yang akan saya aplikasikan, dan juga rule of the game dalam proses belajar mengajar dalam mata kuliah tersebut. Saya memang memasang standar kualitas yang cukup tinggi pada mata kuliah yang saya ampu. Bukan saya sok hebat atau mempersulit mahasiswa, tetapi saya ingin siapa saja yang pernah saya ajar kelak menjadi orang hebat dan sukses. Melihat ketegangan beberapa mahasiswa, saya coba cairkan dengan beberapa statement motivasi. Disini saya bisa melihat bahwa beberapa mahasiswa yang tegang tersebut takut pada bayangan sendiri. Setelah saya motivasi baru mereka kelihatan tenang dan tatapan matanya sudah mulai berseri menandakan tumbuhnya perasaan optimistik dalam dirinya. Mengapa sebagian mahasiswa tegang dan sebagian lainnya tidak demikian? Hal tersebut karena sebagian mahasiswa yang tegang tadi menempatkan sesuatu tidak pada porsinya. Mereka ngeri oleh bayangan sendiri. Apa isi motivasi yang saya sampaikan? Saya menyampaikan agar dalam hidup ini kita hendaknya “semeleh”.
Semeleh bukan berarti kita harus menerima segala sesuatu apa adanya kemudian kita paksakan diri kita untuk menerima situasi tersebut tanpa melakukan perjuangan apapun. Menerima sesuatu apa adanya sebenarnya merupakan penataan diri agar kita tahu posisi kita yang sebenarnya. Semeleh justru mengandung unsur “keberanian” yang luar biasa, yaitu melihat dan mengakui segala sesuatu seperti apa adanya. Saya tidak secerdas teman saya, misalnya. Ya sudah, terima saja, akui saja kalau memang keadaannya demikian. Namun jangan salah, bahwa walaupun teman kita lebih cerdas bukan berarti mereka akan lebih berhasil dari pada kita. Sukses atau tidak sangat bergantung pada bagaimana kita memanage diri kita sendiri dengan segala resources yang kita miliki. Orang cerdas yang tidak bisa memanage dirinya sendiri tidak akan jadi apa-apa. Ibarat kita memiliki pisau tetapi tidak tahu bagaimana cara menggunakannya, maka pisau tersebut hanya sebilah besi yang menggeletak. Akan sama seperti sepotong kayu yang tidak kita gunakan. Dalam kasus “merasa” orang lain lebih cerdas ini, yang penting adalah bagaimana kita mendayagunakan kecerdasan yang kita miliki untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Toh ini juga kita baru “merasa” orang lain lebih cerdas. Jadi yang harus kita akui juga “saya merasa mereka lebih cerdas”, karena belum kita ukur tingkat kecerdasan dengan cara pengukuran yang akurat oleh psikolog misalnya. Dengan semeleh hidup kita menjadi lebih ringan karena kita tidak dibebani oleh ketakutan. Terima saja apa adanya, kemudian berbuat yang terbaik dari apa yang kita punya.
Semeleh juga berarti kita harus lentur dan fleksibel menghadapi keadaan. Dunia ini tidak kotak. Segala kejadian tidak linier. Kehidupan ini tidak seperti rumus matematika yang serba pasti. Beban hidup yang ringan bisa saja dirasakan berat oleh sebagian orang. Sebaliknya, beban yang berat bisa dirasakan ringan oleh sebagian orang lain. Apa artinya? Artinya berat atau ringan itu bergantung pada cara pandang kita pada suatu masalah. Namun, menganggap ringan suatu masalah yang berat tidaklah baik. Sebaliknya, menganggap berat suatu masalah yang ringan juga membebani hidup kita. Oleh karenanya diperlukan skill untuk menempatkan sesuatu pada porsinya, yaitu melalui semeleh. Mengapa harus lentur dan fleksibel? Sekali lagi karena tidak ada rumusan tunggal untuk mengatasi berbagai masalah. Unsur timing bicara. Ada momentum. Jadi, lentur saja menghadapi hidup ini. Fleksibel saja.
Dari uraian yang saya sajikan tadi, nampaknya sangat disayangkan kalau kita sampai merasa frustasi menghadapi sesuatu. Semeleh saja. Kebanyakan perasaan frustasi adalah ciptaan sendiri. Kitalah yang sering menobatkan diri sebagai orang yang frustasi, yang tidak kuat menghadapi tekanan. Padahal keadaan yang sebenarnya belum tentu demikian adanya. Kalaupun kita sudah berhasil melihat sesuatu dengan obyektif seperti apa adanya, hal tersebut juga tidak bisa dipastikan akibat berikutnya. Jadi tidak ada sesuatu yang pasti? Iya. Tentu. Hanya Tuhanlah yang bisa memberikan jaminan 100%. Oleh karena itu, dalam menghadapi hidup ini kita harus semeleh. Yang penting kita selalu “Do the best. Lets God does the rest”. Semeleh saja.
*) Agung Praptapa, adalah seorang dosen, pengelola Program Pascasarjana Manajemen di Universitas Jenderal Soedirman, dan juga sebagai konsultan dan trainer profesional di bidang personal and organizational development.

Kegagalan Adalah Awal Dari Kesuksesan

Berikut ini adalah 10 Kisah Sukses yang Berawal dari Kegagalan

1. Adam Khoo

Dia orang Singapura. Waktu kecil, ia adalah penggemar berat games dan TV. Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV. Baik main PS atau nonton TV.

Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh. Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah. Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura. Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana.

Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura. Begitu terpuruknya prestasi akademisnya, tapi lama kelamaan membaik justru karena cemoohan teman-temannya, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan di dunia bisnis.

Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun. Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.

Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun. Ia berbisnis music box. Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar. Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura. Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura. Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

2. Albert Enstein

Siapa yang belum tahu Albert Einstein? Dialah Ilmuwan terkenal abad 20 yang terkenal dengan teori relativitasnya. Dia juga salah satu peraih Nobel. Siapa sangka dia adalah seorang anak yang terlambat berbicara dan juga mengidap Autisme. Waktu kecil dia juga suka lalai dengan pelajaran.

3. Aristotle Onassis
Di sekolah, ia bodoh dan suka mencari perkara, mengikuti contoh banyak orang kaya. Tidak aneh kalau ia diusir dari beberapa sekolah. Ia paling sering menduduki ranking terbawah di kelasnya. Salah seorang gurunya berkata:

Teman-teman sekelas memuja dia, tetapi guru guru dan keluarganya berputus asa. Selagi ia masih muda, dengan mudah orang dapat melihat bahwa dia akan menjadi seorang di antara mereka yang akan menghancurkan diri sama sekali atau sukses secara gilang-gemilang. Walaupun raportnya di sekolah jauh dari bagus, bakatnya untuk berdagang dan mencari uang telah tampak sejak dini. Akhirnya dia menjadi seorang milyuner.

4. Thomas Alva Edison

Suatu hari, seorang bocah berusia 4 tahun, agak tuli dan bodoh di sekolah, pulang ke rumahnya membawa secarik kertas dari gurunya. ibunya membaca kertas tersebut,

Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah.

Sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh, ”anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia.”

Tommy kecil adalah Thomas Alva Edison yang kita kenal sekarang, salah satu penemu terbesar di dunia. dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju.

Siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius? jawabannya adalah ibunya! Ya, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya.

5. Chris Gardner
Sudah pernah nonton film atau baca buku Pursuit of Happyness ? Itulah kisah nyata kehidupan Christoper Paul Gardner yang diperankan oleh Will Smith. Pahit manisnya kehidupan tampaknya sudah dirasakan olenya. Kehilangan tempat tinggal, ditinggal istri, ditangkap polisi, kesulitan membayar kredit, semuanya sudah dirasakan. Dia bukanlah orang berpendidikan tinggi tapi dia terus berusaha dan berjuang, Kini dia menjadi seorang milyuner sukses, motivator, entrepeneur dan filantropis.

Sekarang dia mempunyai Gardner Rich & Co, sebuah perusahaan pialang saham.

6. Ludwig Van Beethoven

Jika anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah anda akan menyarankannya untuk menggugurkan kandungannya? Jika anda menjawab ya, maka anda baru saja membunuh salah satu komponis masyur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.

Ketika Beethoven berumur di ujung dua puluhan, tanda-tanda ketuliannya mulai tampak, tapi akhirnya ia menjadi Komponis yang terkenal dengan karya 9 simfoni, 32 sonata piano, 5 piano concerto, 10 sonata untuk piano dan biola, serangkaian kuartet gesek yang menakjubkan, musik vokal, musik teater, dan banyak lagi.

7. Louis Braille

Louis Braille mengalami kerusakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, sejenis infeksi yang terjadi karena kerusakan mata yang lainnya.

Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu orang buta juga bisa membaca. Sekarang siapa yang tidak tahu Abjad Braille?

8. Abraham Lincoln
Kisah Lincoln merupakan contoh klasik orang-orang yang benar-benar berani gagal.

Gagal dalam bisnis pada tahun 1831.

Dikalahkan di Badan Legislatif pada tahun 1832.

Gagal sekali lagi dalam bisnis pada tahun1833.

Mengalami patah semangat pada tahun 1836.

Gagal memenangkan kontes pembisara pada tahun1838.

Gagal menduduki dewan pemilih pada tahun 1840.

Gagal dipilih menjadi anggota Kongres pada tahun 1843.

Dilantik menjadi anggota Kongres pada tahun 1846.

Gagal menjadi anggota Kongres pada tahun 1848.

Gagal menjadi anggota senat pada tahun 1855.

Gagal Menjadi Presiden Pada Tahun 1856.

Gagal Menjadi anggota Dewan Senat pada tahun 1858.

Akhirnya pada tahun 1860 dilantik sebagai presiden Amerika yang ke-16 dan salah seorang presiden yang sukses dalam sejarah Amerika.

9. Bill Gates
Nah, ada yang tidak kenal Bill Gates? William Henry Gates III, atau yang lebih dikenal Bill Gates adalah pendiri (bersama Paul Allen) dan ketua umum perusahaan perangkat lunak AS, Microsoft. Ia juga merupakan seorang filantropis melalui kegiatannya di Yayasan Bill & Melinda Gates.

Ia menempati posisi pertama dalam orang terkaya di dunia versi majalah Forbes selama 13 tahun (1995 hingga 2007). Siapa sangka dia DO dari Harvard dan sebelumnya pernah bekerja sebagai Office Boy

10. Mark Zuckerberg

Yang satu ini dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri. Bagaimana tidak, dimulai dari sebuah situs penghubung mahasiswa Harvard, ternyata banyak yang menyukainya, dengan nekat ia mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, DO dari Harvard untuk mengembangkan situs tersebut menjadi Facebook yang kita kenal sekarang.

Tahukah Anda? Mark pernah menolak tawaran Friendster yang ingin membeli Facebook 10 juta US$ , artinya sekitar Rp. 9,500,000,000 (kurs Rp. 9,500), tawaran dari viacom 750 juta dolar (Rp. 7,125,000,000,000) dan yang paling mengagetkan tawaran dari yahoo satu miliar dolar (Rp. 9,500,000,000,000).

diambil dari :

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=7171835